
Kabupaten
Tana Toraja merupakan salah satu dari 23 kabupaten yang ada di propinsi
Sulawesi Selatan yang terletak diantara 2º20´sampai 3º30´ Lintang Selatan dan
119º30´ sampai 120º10´ Bujur Timur. "Ibukota" Tator yakni kota kecil
Rantepao adalah kota yang dingin dan nyaman, dibelah oleh satu sungai terbesar
di Sulsel yakni sungai Sa'dan, sungai inilah yang memberikan tenaga pembangkit
listrik untuk menyalakan seluruh Makasar. Secara Sosio linguistik, bahasa
Toraja disebut bahasa Tae oleh Van Der Venn. Ahli bahasa lain seperti Adriani
dan Kruyt menyebutnya sebagai bahasa Sa'dan. Bahasa ini terdiri dari
beberapa dialek , seperti dialek Tallulembangna (Makale), dialek Kesu
(Rantepao), dialek Mappapana (Toraja Barat).
Batas-batas Kabupaten Tana Toraja
adalah :
- Sebelah Utara : Kabupaten Luwu, Kabupaten Mamuju, Kabupaten Mamasa
- Sebelah Timur : Kabupaten Luwu
- Sebelah Selatan : Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang
- Sebelah Barat : Kabupaten Polmas
- Sebelah Utara : Kabupaten Luwu, Kabupaten Mamuju, Kabupaten Mamasa
- Sebelah Timur : Kabupaten Luwu
- Sebelah Selatan : Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang
- Sebelah Barat : Kabupaten Polmas
Luas wilayah Kabupaten Tana Toraja
tercatat 3.205,77 km² atau sekitar 5% dari luas propinsi Sulawesi Selatan, yang
meliputi 15 (lima belas) kecamatan. Jumlah penduduk pada tahun 2001 berjumlah
404.689 jiwa yang terdiri dari 209.900 jiwa laki-laki dan 199.789 jiwa
perempuan dengan kepadatan rata-rata penduduk 126 jiwa/km² dan laju pertumbuhan
penduduk rata-rata berkisar 2,68% pertahun.
TORAJA
aslinya mempunyai nama tua yang dikatakan dalam literatur kuna mereka sebagai
"Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo" , yang berarti negeri
dengan pemerintahan dan masyarakat berketuhanan yang bersatu utuh bulat seperti
bulatnya matahari dan bulan. Agama asli nenek moyang mereka adalah Aluk Todolo
yang berasal dari sumber Negeri Marinding Banua Puan yang dikenal dengan sebutan
Aluk Pitung Sa'bu Pitung Pulo. Ketika Belanda masuk, agama Aluk Todolo tergeser
oleh missionaris Kristen yang menyebarkan agama diwilayah ini. Namun adat
istiadat yang berakar pada konsep Aluk Todolo hingga kini masih dijalankan.
Kita masih akan menikmati pertunjukan upacara kematian masyarakat Toraja
sebagai pengaruh kuat dari agama nenek moyang mereka.
Kata Toraja itu sendiri berasal dari bahasa Bugis to riaja, yang berarti ‘orang
yang berdiam di negeri atas’.
KEBUDAYAAN TORAJA
KEBUDAYAAN TORAJA
Tongkonan
Tiga tongkonan di
desa Toraja.
Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal dari bahasa Toraja tongkon("duduk").
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka. Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat "pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.
Rumah
sebagai tempat tinggal memiliki fungsi dan peranan sosial bagi penghuninya.
Masyarakat Tana Toraja mengenal dua golongan rumah, yaitu Banua
Tongkonan (rumah
adat) dan Banua Barung-Barung (rumah pribadi atau rumah biasa). Tongkonan adalah rumah tempat tinggal sekaligus
tempat menjalankan fungsi dan peranan penguasa adat, sehingga kerap disebut
rumah adat. Barung-barung merupakan tempat tinggal keluarga yang
bukan penguasa.
Arsitektur tongkonan cukup unik ditilik dari bentuk atap
dan penampilan bangunan. Ciri khas ini turun temurun dari nenek moyang dan
tetap dipertahankan hingga sekarang. Ada empat tahap proses panjang perkembangan
rumah adat Tana Toraja sebelum akhirnya terbentuk menjadi tongkonan,
yaitu:
1.
Banua Pandoko Dena
Rumah
bentuk burung pipit yang masih sangat sederhana, merupakan rumah yang terdapat
di pohon, terbuat dari ranting kayu yang diletakkan di atas dahan dengan
dinding dan atap yang terbuat dari rumput berbentuk bundar seperti sarang
burung pipit. Rumah ini berfungsi sebagai perlindungan dari cuaca panas/hujan
dan gangguan hewan buas.
2.
Banua Lentong A’pa
Rumah ini
menggunakan 4 tiang dengan atap dan dinding yang masih menggunakan dedaunan.
Saat ini Banua Lentong A’padimanfaatkan
sebagai pondok kecil untuk kandang ternak.
3.
Banua Tamben
Banua
Tamben merupakan
rumah yang terbuat dari kayu dengan bentuk atap yang menyerupai perahu pada
kedua ujungnya dan menjulang ke atas.
4.
Banua Toto atau Banua Sanda ‘Ariri
Bentuk
rumah Banua Toto adalah
persegi panjang dengan tiang yang jumlahnya lebih banyak dan teratur,
bertingkat dua, dan dihiasi dengan ukiran.
Beberapa
jenis tongkonan yang
dikenal masyarakat Tana Toraja disesuaikan dengan peranan penguasanya, yaitu tongkonan
layuk, tongkonan pekaindoran, dan tongkonan batu a’riri. Bentuk ketiga tongkonan ini serupa,
hanya saja terdapat perbedaan pada tiang. Tongkonan layuk dan tongkonan
pekaindoran memiliki
tiang tengah yang disebut a’riri posi disamping hiasan berbentuk
kepala kerbau (kabogo)
dan kepala ayam (katik),
- Tongkonan
Layuk (maha
tinggi/agung)
Merupakan tongkonan yang pertama kali menjadi pusat
perintah dan kekuasaan dengan peraturan Tana Toraja dahulu kala.
- Tongkonan
Pekaindoran (Tongkonan Kaparengngesan)
Tongkonan yang didirikan penguasa masing-masing
daerah untuk mengatur pemerintahan adat berdasarkan aturan tongkonan
aluk.
- Tongkonan
Batu A’riri
Tongkonan yang berfungsi sebagai tali ikatan
dalam membina persatuan dan warisan keluarga.
Umumnya tongkonan berbentuk persegi panjang dengan
ukuran 2:1 dan memiliki 5 bagian struktur bangunan, yaitu (1) pondasi, (2)
tiang, (3) lantai, (4) dinding, dan (5) atap. Lantai rumah terdiri dari 3
lapis. Dinding rumah terdiri dari papan yang diikat dengan pengikat yang
disebut sambo rinding. Atap rumah
terbuat dari bambu. Ornamen dan motif yang digunakan memiliki makna cara hidup
masyarakat Tana Toraja. Warna yang dominan digunakan antara lain merah, putih,
kuning, dan hitam. Merah berarti warna kehidupan, putih adalah warna daging dan
tulang manusia, kuning melambangkan kemuliaan dan ketuhanan juga pengabdian,
serta warna hitam yang menyimbolkan kesedihan dan kematian.
Tata ruang
rumah Toraja secara tradisional dikelompokkan menjadi lima bagian, yaitu:
-
Banua sang borong/sang lanta
Sebuah
ruangan yang berfungsi untuk berbagai macam kebutuhan,
-
Banua Duang Lanta
Rumah
dengan dua ruang, yaitu satu ruang tidur disebut sumbung dan ruang sali untuk ruang kerja, dapur dan tempat
meletakkan jenazah sementara.
-
Banua Patang Lanta
Rumah
dengan 4 ruang, terdiri dari dua jenis yaitu:
* Banua
Di Lalang Tedong terdiri
dari ‘sali iring’ (ruang dapur, ruang kerja,
tempat tidur abdi adat, dan tempat menerima tamu).
* Sali
Tangga terdiri
dari tempat kerja, ruang tidur keluarga dan tempat jenazah yang akan
diupacarakan.
* Sumbung (ruang tidur pemangku adat)
* Inan
Kabusung (ruang
tertutup yang dibuka kalau ada upacara).
- Banua
Di Salombe, terdiri dari:
* Palanta/tangdo (ruang pemuka adat dan tempat
upacara penyembahan)
* Sali
Tangga (tempat
bekerja dan tempat jenazah sementara),
* Sumbung (ruang tidur pemuka adat).
- Banua
Limang Lanta
Rumah yang
terdiri atas lima ruang, yaitu palata (ruang duduk dan tempat saji-sajian), sali
iring (dapur, tempat
makan dan tempat tidur adat), paluang (tempat bekerja dan meletakkan
jenazah), anginan (ruang tidur), dan sumbung
kabusungan (ruang
tempat menyimpan pusaka adat).
Ukiran kayu
Ukiran kayu Toraja: setiap panel melambangkan niat baik.
Bahasa Toraja hanya diucapkan dan
tidak memiliki sistem tulisan. Untuk menunjukkan kosep keagamaan dan sosial,
suku Toraja membuat ukiran kayu dan menyebutnya Pa'ssura (atau
"tulisan"). Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan perwujudan budaya
Toraja.
Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dankecebong yang melambangkan kesuburan. Gambar kiri memperlihatkan contoh ukiran kayu Toraja, terdiri atas 15 panel persegi. Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya kebutuhan akan keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik.
Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja (lihat desain tabel di bawah), selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan sebagai dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka sendiri. Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen geometris.
Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dankecebong yang melambangkan kesuburan. Gambar kiri memperlihatkan contoh ukiran kayu Toraja, terdiri atas 15 panel persegi. Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya kebutuhan akan keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik.
Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja (lihat desain tabel di bawah), selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan sebagai dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka sendiri. Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen geometris.
Beberapa motif ukiran Toraja
|
|||
pa'tedong
(kerbau) |
pa'barre allo
(matahari) |
pa're'po' sanguba
(menari) |
ne'limbongan
(perancang legendaris) |
UPACARA
PEMAKAMAN (RAMBU' SOLO')
Tempat penguburan Toraja yang
diukir.
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.
Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu,jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.
Sebuah makam.
Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam "masa tertidur". Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.
Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.
Musik dan Tarian
Suku Toraja melakukan tarian dalam
beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk
menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah
almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat.
Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang
malam untuk menghormati almarhum (ritual terseebut disebut Ma'badong).
Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakaman.
Pada hari kedua pemakaman, tarian prajurit Ma'randing ditampilkan
untuk memuji keberanian almarhum semasa hidupnya. Beberapa orang pria melakukan
tarian dengan pedang, prisai besar dari kulit kerbau, helm tanduk kerbau, dan
berbagai ornamen lainnya. Tarian Ma'randing mengawali prosesi
ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara
pemakaman. Selama upacara, para perempuan dewasa melakukan tarian Ma'katia sambil
bernyanyi dan mengenakan kostum baju berbulu. TarianMa'akatia bertujuan
untuk mengingatkan hadirin pada kemurahan hati dan kesetiaan almarhum. Setelah
penyembelihan kerbau dan babi, sekelompok anak lelaki dan perempuan bertepuk
tangan sambil melakukan tarian ceria yang disebut Ma'dondan.
Tarian Manganda' ditampilkan pada
ritual Ma'Bua'.
Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama musim panen. Tarian Ma'bugi dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan Syukur dan tarian Ma'gandangiditampilkan ketika suku Toraja sedang menumbuk beras Ada beberapa tarian perang, misalnya tarian Manimbong yang dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma'dandan oleh perempuan. Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian yang disebut Ma'bua hanya bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma'bua adalah upacara Toraja yang penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling pohon suci.
Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pa'suling. Suling berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian Ma'bondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang menari dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Suku Toraja juga mempunyai alat musik lainnya, misalnya Pa'pelle yang dibuat dari daun palem dan dimainkan pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah.
Bahasa
Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja,
dengan Sa'dan Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional adalah bahasa resmi dan digunakan oleh masyarakat, akan tetapi bahasa
Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di Tana Toraja.
Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala' , dan Toraja-Sa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasa Austronesia. Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa Toraja.
Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala' , dan Toraja-Sa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasa Austronesia. Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa Toraja.
Ciri yang menonjol dalam bahasa
Toraja adalah gagasan tentang duka cita kematian. Pentingnya upacara kematian
di Toraja telah membuat bahasa mereka dapat mengekspresikan perasaan duka cita
dan proses berkabung dalam beberapa tingkatan yang rumit. Bahasa Toraja
mempunyai banyak istilah untuk menunjukkan kesedihan, kerinduan, depresi, dan
tekanan mental. Merupakan suatukatarsis bagi
orang Toraja apabila dapat secara jelas menunjukkan pengaruh dari peristiwa
kehilangan seseorang; hal tersebut kadang-kadang juga ditujukan untuk
mengurangi penderitaan karena duka cita itu sendiri.
OBJEK WISATA TORAJA - SULAWESI SELATAN
Pallawa.
Pallawa.
Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohin banbu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat. Terletak sekitar 12 Km ke arah utara dari Rantepau.
Londa.
Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya
terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana
peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya
dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Terletak sekitar 5 Km ke
arah selatan dari Rantepau.
Ke’te Kesu.
Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 Km dari tenggara Rantepau.
Batu Tumonga.
Di kawasan ini anda dapat menemukan sekitar 56 batu menhir dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengah. Kebanyakan batu menhir memiliki ketinggian sekitar 2 – 3 meter. Dari tempat ini anda dapat melihat keindahan rantepau dan lembah sekitarnya. Terletak di daerah Sensean dengan ketinggai 1300 Meter dari permukaan laut.
Lemo.

Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo anda
dapat melihat mayat yanng disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang
curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan
ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti dengan
melalui upacara Ma Nene. Terletak di Kabupaten Tan Toraja.
Kuburan Bayi Kambira

Di kuburan ini, bayi yang meninggal
sebelum giginya tumbuh dikuburkan di dalam sebuah lubang yang dibuat di pohon
Tarra’. Bayi ini dianggap masih masih suci. Pohon Tarra’ dipilih sebagai tempat
penguburan bayi, karena pohon ini memiliki banyak getah yang dianggap sebagai
pengganti air susu ibu. Dengan menguburkan di pohon ini, orang-orang Toraja
menganggap bayi ini seperti dikembalikan ke rahim ibunya dan mereka berharap
pengembalian bayi ini ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang akan
lahir kemudian.
Pohon Tarra’ memiliki diameter sekitar 80 – 100 cm dan lubang yang dipakai untuk menguburkan bayi ditutup dengan ijuk dari pohon enau. Pemakaman seperti ini dilakukan oleh orang Toraja pengikut ajaran kepercayaan kepada leluhur. Upacara penguburan ini dilaksanakan secara sederhana dan bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan kain, sehingga bayi seperti masih berada di rahim ibunya.
Kuburan ini terletak di Desa Kambira, tidak jauh dari Makale, Tana Toraja.
Pohon Tarra’ memiliki diameter sekitar 80 – 100 cm dan lubang yang dipakai untuk menguburkan bayi ditutup dengan ijuk dari pohon enau. Pemakaman seperti ini dilakukan oleh orang Toraja pengikut ajaran kepercayaan kepada leluhur. Upacara penguburan ini dilaksanakan secara sederhana dan bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan kain, sehingga bayi seperti masih berada di rahim ibunya.
Kuburan ini terletak di Desa Kambira, tidak jauh dari Makale, Tana Toraja.
Arung Jeram Sungai Sa’dan

Sungai Sa’dan memiliki panjang
sekitar 182 km dan lebar rata-rata 80 meter serta memiliki anak sungai sebanyak
294. Di sepanjang Sungai ini terdapat beberapa jeram dengan tingkat kesulitan
yang berbeda, seperti jeram Puru’ dengan kategori tingkat kesulitan III; jeram
Pembuangan Seba dengan kategori tingkat kesulitan IV, yaitupermukaan air di
pinggir sungai yang lebar dan tiba-tiba menyempit dengan cepat; jeram Fitri
dengan kategori tingkat kesulitan V, yaitu berupa patahan dan arus sungai yang
menabrak batu besar yang dapat menyebabkan perahu menempel di batu dan terjebak
diantaranya. Selain itu, topografi daerah ini juga sangat menarik dengan
keindahan alam dan udara yang sejuk di sepanjang perjalanan.
Lokasi Sungai Sa’dan ini dimulai dari jembatan gantung di Desa Buah Kayu kabupaten Tana Toraja dan berakhir di jembatan Pappi Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Lokasi Sungai Sa’dan ini dimulai dari jembatan gantung di Desa Buah Kayu kabupaten Tana Toraja dan berakhir di jembatan Pappi Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Upacara Adat Rambu Solo
Rambu
Solo dalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk
menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh,
yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat
peristirahatan. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian
karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh
prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut
hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap
diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan
diberi hidangan makanan dan minuman bahkan selalu diajak berbicara.

Puncak dari upacara Rambu solo ini dilaksanakan disebuah
lapangan khusus. Dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual, seperti
proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornament dari benang emas dan perak
pada peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan, dan proses
pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Selain itu, dalam upacara adat ini terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu kerbau, kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih, dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian Toraja.
Kerbau yang disembelih dengan cara menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan, ini merupakan ciri khas masyarakat Tana Toraja. Kerbau yang akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa, tetapi kerbau bule “Tedong Bonga” yang harganya berkisar antara 10 – 50 juta per ekornya.
Upacara adat ini biasanya dilaksanakan di Kampung Bonoran, Desa Ke’te’ Kesu’, Kecamatan Kesu’, Tana Toraja.
Selain itu, dalam upacara adat ini terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu kerbau, kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih, dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian Toraja.
Kerbau yang disembelih dengan cara menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan, ini merupakan ciri khas masyarakat Tana Toraja. Kerbau yang akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa, tetapi kerbau bule “Tedong Bonga” yang harganya berkisar antara 10 – 50 juta per ekornya.
Upacara adat ini biasanya dilaksanakan di Kampung Bonoran, Desa Ke’te’ Kesu’, Kecamatan Kesu’, Tana Toraja.
Sumber :
Suhardi dan
Rahardjo, Joko Mudji. 2000. Tana Toraja dan
Masyarakatnya. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional.